Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, January 29, 2009

Pekan Budaya Tionghoa di Ketandan Rangkul Budaya Lain

Menyambut tahun baru Imlek 2560 masyarakat Tionghoa Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta akan kembali menggelar Pekan Budaya Tionghoa yang berlangsung di Jalan Ketandan, 5-9 Februari. Berbeda dengan tiga kali penyelenggaraan sebelumnya, even kali ini akan merangkul budaya lain yang ada di tanah air untuk ikut berpartisipasi.

Seksi Acara Pekan Budaya Tionghoa Gutama Fantoni, Rabu (21/1), mengatakan sudah bukan jamannya lagi perayaan tahun baru Imlek dilakukan secara inklusif sebatas kalangan internal warga Tionghoa sendiri. Begitu pula dengan kegiatan Pekan Budaya Tiongh oa diupayakan untuk terus membumi.

Keinginan untuk menghilangkan kesan etnis bisa dilihat dari tema yang dibawakan dari tahun ke tahun. Pada penyelenggaraan pertama tahun 2006 temanya hanya Pekan Budaya , disusul Pesta Rakyat tahun 2007, Budaya Rakyat pada tahun 2008, dan Ragam Budaya Rakyat pada tahun 2009. Tidak menutup kemungkinan tahun depan temanya Budaya Nusantara, kata Fantoni.

Diikutsertakannya budaya lain pada Pekan Budaya Tionghoa kali ini tak lepas dari potensi yang ada di Yogyakarta. Jumlah mahasiswa asal daerah di Yogyakarta cukup banyak. Mereka pun memiliki kelompok-kelompok kesenian berdasar provinsi masing-masing yang siap ditampilkan dalam berbagai kesempatan.

Yogyakarta, kan, miniaturnya Indonesia. Banyak mahasiswa dari luar daerah yang punya tim kesenian. Nah saat ini kami sedang menyeleksi, mana saja yang nantinya akan mengikuti acara di panggung maupun memeriahkan karnaval, ujarnya.

Ditemui terpisah, Anggi Minarni yang juga menjadi seksi acara, mengatakan jadwal kegiatan masih berubah-ubah. Namun, ada sejumlah acara yang pasti, di antaranya pertunjukan wayang poo tay hee asal Jombang, Jawa Timur, yang akan dipentaskan setiap hari pada akhir kegiatan. Selain itu juga ada ketoprak yang sebagian pemainnya warga Tionghoa. Bertindak sebagai pelatih adalah seniman Didi Nini Towok, sedang penulis naskahnya ialah seniman ketoprak Bondan Nusantara.

Pekan budaya ini juga diramaikan sembilan kelompok barongsai. Sedang, untuk peserta karnaval dari luar daerah yang telah melakukan konfirmasi adalah kelompok kesenian mahasiswa asal Papua dan Kalimantan Tengah, katanya.

Menurut Anggi banyak pelestari budaya Tionghoa yang ternyata berasal dari Jawa. Untuk pemain barongsai, misalnya, tidak semuanya warga Tionghoa. Begitu pula wayang poo tay hee asal Jombang, dalangnya ternyata juga orang Jawa. (Courtesy Kompas/Antara)

No comments: