Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sunday, February 1, 2009

Duduk di Teras Cottage Sambil Baca Buku

KEPULAUAN Derawan tak pernah berhenti dibicarakan. Kawasan itu tanpa menebar pesona pun telah mampu memikat hati wisatawan. Seperti yang dilukiskan N Savitri, wanita karier yang tinggal di Jakarta. Walau ia berada di Ibu Kota, wanita beranak satu itu kerap berkunjung ke Derawan. Berikut laporan Savitri, penulis Citizen Journalism Tribun Kaltim.

BEBERAPA hari lalu saya menyaksikan sebuah stasiun televisi swasta yang menayangkan kegiatan memancing di laut lepas. Lokasinya kalau tidak salah di sekitar Berau, Kalimantan Timur. Salah satu potensi wisata yang ditonjolkan adalah Kepulauan Derawan.

Di kepulauan itu terdapat sejumlah obyek wisata bahari yang cukup menawan dan memikat para wisatawan dunia. Salah satunya adalah taman bawah laut. Para penyelam level dunia sudah sering datang ke tempat ini.

Sedikitnya ada empat pulau yang cukup terkenal di Kepulauan Derawan. Pulau-pulau itu bernama Pulau Maratua, Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, dan Pulau Kakaban. Selama ini pulau-pulau itu dihuni satwa langka penyu hijau dan penyu sisik.

Menonton tayangan Derawan membuat sarapan pagi saya sedikit terhenti. Ketika itu saya sedang menikmati nasi dengan ikan tuna, ditambah lalapan kemangi dan sayur asem. Lamunan akan keindahan Pulau Derawan mengingkatkan perjalanan saya ke pulau itu. Saya pernah beberapa kali ke tempat itu. Suasananya benar-benar indah dan menawan.

Duluuuu.. ketika saya masa kecil, saya kerap bermain di daerah pesisir. Selama hampir sebelas tahun saya tinggal di Tuban, kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa. Di kota tersebut saya sempat mengenyam pendidikan dari SD sampai SMA karena mengikuti ayah yang kebetulan dinas di kota itu.

Tinggal di daerah pesisir membuat saya sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar Tuban. Ketika itu lautnya belum tercemar dan terlihat bersih. Herannya, kenapa saya kok kurang menyukai suasana pantai. Rasanya, mandi atau bermain di laut kurang nyaman lantaran airnya asin dan terasa lengket semua di badan.

Balik lagi ke Derawan. Biasanya saya berangkat ke Derawan berombongan bersama keluarga. Kami menumpang speedboat. Keakraban di antara sesama teman dan keluarga terasa sekali.

Walau saya kurang menyukai laut, tapi saya benar-benar jatuh hati dengan keindahan dan keelokan Derawan yang benar-benar menawan. Sepanjang mata memandang tanpa menceburkan diri ke laut pun, rasanya keindahan di kepulauan itu serasa merasuk ke dalam jiwa saya lalu melahirkan ketenangan pikiran dan hati.

Sebelumnya saya pernah mendengar, Kabupaten Berau telah merencanakan kawasan konservasi pulau-pulau kecil di Kepulauan Derawan. Potensi kawasan konservasi ini terlihat dari keanekaragaman hayatinya, antara lain satwa endemik.

Selain memiliki beberapa ekosistem tropis yang terdiri dari ekosistem terumbu karang, ekosistem lamun, dan ekosistem mangrove, Kepulauan Derawan juga punya spesies yang dilindungi dan khas. Spesies itu di antaranya ketam kelapa (Birgus latro), paus, lumba-lumba (Delphinus), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Erethmochelys fimbriata), dan dugong (Dugong dugon).

Ketam kelapa dapat ditemukan di Pulau Kakaban dan Maratua, sedangkan ikan Paus bisa dilihat di sekitar Pulau Maratua. Biasanya ikan raksasa ini muncul pada musim-musim tertentu, sedangkan lumba-lumba berada di sekitar Pulau Semama, Sangalaki, Kakaban, Maratua, dan Gosong Muaras.

Penyu juga bisa kita temukan di sekitar Pulau Panjang, Derawan, Semama, Sangalaki, dan Maratua. Adapun Dugong di Pulau Panjang dan Semama. Spesies unik lain adalah Pari Manta (Manta birostris) yang terdapat di Pulau Sangalaki dan Pigmy Seahorse di Pulau Semama dan Derawan.
***
DUDUK di teras cottage sambil membaca buku ditemani sebutir kelapa muda, ehmm... terasa nikmat, apalagi hembusan angin pantai terasa agak kencang. Pandangan mata saya seakan lepas jauh sampai ke kaki-kaki langit. SubhanAllah... indahnya ciptaan Allah. Semuanya terasa sempurna. Paduan warna laut dan langit, apalagi ketika sunset... wow seakan-akan tidak ada kata yang keluar walau hanya sekadar melukiskan keindahan pemandangan laut Derawan.

Kadang pada saat berjalan di dermaga, kita bisa melihat beberapa ekor penyu besar sedang berenang di tepi dermaga. Ukuran penyu itu mungkin diameternya sekitar satu meter. Cukup besar jika kita bisa duduk di atasnya.

Atau bisa juga kita melihat ikan-ikan dan kadang ubur-ubur. Air lautnya amat jernih sehingga kita bisa melihat semua keindahan bawah laut dengan jelas. Serasa melihat aquarium alam. Apa yang saya gambarkan itu hanya sedikit kecantikan Pantai Derawan saat kita melihatnya dari dermaga.

Menurut teman-teman yang senang diving atau snorkling… alam di bawah laut Derawan lebih menakjubkan. Berbagai jenis ikan dengan warna, corak, dan ukuran bermacam-macam ada di taman-taman laut. Belum lagi kalau kita mengunjungi perkampungan nelayannya. Sebelumnya saya membayangkan, perkampungan itu kumuh seperti perkampungan nelayan lainnya. Tapi, semua dugaan saya itu meleset. Perkampungan nelayan di Derawan benar-benar rapi dan bersih. Tidak ada bau amis yang menyengat.

Satu lagi yang tidak pernah terlewatkan kalau jalan-jalan ke Derawan adalah barbeque party. Wauw…ikan, cumi, udang… fresh langsung dari laut. Tanpa banyak bumbu, hanya garam dan kecap, kemudian dibakar di atas bara arang dan sabut kelapa. Rasanya benar-benar mantap dan lidah semakin rajin menikmati makanan. Nasi hangat plus sambal dadak dan lalap menambah gairah untuk menyantapnya. Alhamdulillah… terima kasih atas semua karunia-Mu…

Itulah sekelumit kenangan saya tentang Derawan, sebuah pulau dengan pantai dan lautnya yang indah dan bisa merubah pandangan saya yang semula kurang suka laut, berubah menjadi cinta laut. Sekarang saya dengan bangga menceritakan keindahan Derawan ke semua orang. Teman-teman yang suka diving selalu saya sarankan agar pergi ke Derawan. Gimana.... Ada yang tertarik dengan Derawan? (Courtesy Kompas/Antara)

No comments: