Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, March 28, 2009

Sejuta Satwa di Belantara Tangkoko

Segerombolan kera hitam khas Sulawesi berpindah dari satu dahan ke dahan lain. Ada pula yang berjalan sambil mengais makanan di tanah basah. Setidaknya sekitar 20-an kera Macaca nigra ini seperti komunitas. Sebutan untuk rombongan kera ini adalah Rambo 1, begitu menurut penuturan salah satu peneliti yang sudah hampir setahun mengikuti tingkah laku mereka. Penduduk sekitar menyebut kera itu dengan "yaki" yang hidup bebas di Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih dan Cagar Alam Tangkoko. Satwa ini hanya satu jenis dari jutaan satwa yang ada di kawasan konservasi Gunung Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara.Kawasan konservasi seluas 8.718 hektar ini meliputi empat tempat, yakni TWA Batuputih seluas 615 hektar, Cagar Alam Tangkoko-Batuangus seluas 3.196 hektar termasuk kawasan Gunung Tangkoko-Batuangus dan sekitarnya, CA Duasudara seluas 4.299 hektar termasuk Gunung Duasudara dan sekitarnya, dan TWA Batuangus seluas 635 hektar. Keempatnya berada di bawah pengelolaan Departemen Kehutanan, melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut.Di kawasan konservasi yang menjadi incaran para peneliti satwa di dunia ini terdapat 26 jenis mamalia (10 jenis endemik Sulawesi), 180 jenis burung (59 di antaranya endemik Sulawesi dan 5 endemik Sulut), dan 15 jenis reptil dan amfibi. Area konservasi ini yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah TWA Batuputih yang dapat ditempuh dengan mobil pribadi sekitar dua jam dari Manado. Melalui TWA Batuputih ini biasanya lebih dekat menuju kawasan Cagar Alam Tangkoko. Anda dapat memakai bantuan guide sekaligus membayar donasi untuk konservasi ini minimal sekitar Rp 70 ribu. Ada beberapa guide dari penduduk lokal yang memang sudah terlatih menjelaskan dengan bahasa Inggris, terutama untuk turis mancanegara yang datang.Kebanyakan turis yang datang mengagumi keanekaragaman satwa di wilayah konservasi ini, karena konon Sulawesi ini terkenal unik sebagai percampuran atau zona transisi dua wilayah zoogeografi yakni Asia dan Australia. Bisa dikatakan cagar alam Tangkoko ini rumah satwa Sulawesi yang signifikan.Satwa yang bisa ditemukan di Tangkoko antara lain burung manguni (Otus manadensis) yang menjadi simbol daerah Minahasa, bersama tujuh jenis burung manguni lainnya. Menurut guide Tangkoko, Alfons Wodi, burung ini keluar pada malam hari dan berbagi habitat dengan hewan malam lainnya seperti tarsius, kelelawar dan musang Sulawesi.Selain monyet hitam Sulawesi dan tangkasi atau tarsius, satwa khas Sulawesi lain yang mudah dijumpai di kawasan ini adalah kuskus beruang (Ailurops ursinus), kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis), julang sulawesi atau burung rangkong (Rhyticeros cassidix), dan kangkareng (Penelopides exarrhatus). Di kawasan konservasi satwa langka ini, Anda dapat melalui pos I di pintu masuk dimana Anda dapat menikmati pantai dan untuk mencapai Pos II dapat ditempuh dengan mobil. Sebelum mencapai Pos II Anda akan menjumpai hutan tropis sekunder dimana terdapat pohon dan beberapa tanaman pionir seperti sirih hutan, kayu bunga dan binunga.
Dari Pos II, Anda bisa memarkir mobil dan mulai berjalan menjelajah hutan dan akan bertemu dengan sekelompok monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra). Aneka suara burung juga akan terdengar bila semakin mendekat ke dalam hutan mulai dari Rangon, Kingfisher, merpati, dan masih banyak lagi.
Dari TWA Batu Putih ada batas untuk memasuki Cagar Alam Tangkoko, tetapi batas ini pun tak terlalu jelas karena hanya berupa dua tonggak dari pohon yang dipancangkan di kanan dan kiri.
Menurut Alfons, banyak perangkap yang ditemukan oleh petugas di kawasan konservasi itu. “Yah, kalau patroli itu dilakukan rutin pasti ada perangkap untuk kera atau pencurian kayu juga, tapi sayangnya batas cagar alam ini masih belum ada, jadi semua orang bisa keluar masuk,” ujar Alfons.
Aneka flora dan fauna yang dikagumi naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak untuk melestarikannya. Lebih baik mencegah kepunahan satwa lebih dini daripada generasi selanjutnya tak lagi bisa menyaksikan kekayaan hayati tempat ini. Semoga… (Courtesy Kompas/Antara)

No comments: