Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Monday, March 9, 2009

Merajut Kisah Pengungsi Vietnam di Pulau Galang

BILA Anda belajar sejarah, pasti ingat dengan peristiwa ratusan ribu penduduk Vietnam bagian selatan melarikan diri meninggalkan kampung halamannya untuk mengungsi ke negara lain pascaperang saudara di Vietnam sekitar 1980-an. Meski telah lama berlalu, Anda dapat melongok kembali kejadian tersebut, bahkan tanpa menggunakan mesin waktu.Saat peristiwa itu terjadi, para pengungsi ini meninggalkan negaranya menggunakan perahu-perahu yang kondisinya memprihatinkan. Dalam satu perahu bisa ditempati 40-100 orang. Berbulan-bulan para pengungsi terombang-ambing di tengah perairan Laut Cina Selatan, tanpa tujuan yang jelas. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah lautan dan sebagian lagi dapat mencapai daratan, termasuk wilayah Indonesia, seperti Pulau Galang dan Tanjung Pinang.Gelombang pengungsi ini menarik perhatian Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Pemerintah Indonesia. Pulau Galang, tepatnya di Desa Sijantung, Kepulauan Riau, akhirnya disepakati untuk digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi para pengungsi. UNHCR dan Pemerintah Indonesia membangun berbagai fasilitas, seperti barak pengungsian, tempat ibadah, rumah sakit, dan sekolah, yang digunakan untuk memfasilitasi sekitar 250.000 pengungsi. Di tempat ini, para pengungsi Vietnam meneruskan hidupnya sepanjang tahun 1979-1996, hingga akhirnya mereka mendapat suaka di negara-negara maju yang mau menerima mereka ataupun dipulangkan ke Vietnam. Para pengungsi ini dikonsentrasikan di satu permukiman seluas 80 hektar dan tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa oleh para pengungsi ini.Saat ini, bekas kamp pengungsian tersebut dijadikan tempat wisata oleh pihak Otorita Batam sebagai salah satu upaya mewujudkan program Visit Batam 2010. Berkunjung ke tempat ini dapat mengingatkan Anda akan tragedi masa lalu yang menyebabkan ratusan ribu orang harus hengkang dari negaranya untuk mencari perlindungan.Di kawasan ini, pengunjung dapat melihat beberapa monumen dan sisa peninggalan dari kamp pengungsian. Dari sisa-sisa peninggalan ini, pengunjung dapat membayangkan bagaimana para pengungsi Vietnam mencoba bertahan hidup, jauh dari tanah kelahirannya. Pengunjung yang memasuki pulau ini akan disambut dengan Patung Taman Humanity atau Patung Kemanusiaan. Patung ini menggambarkan sosok wanita yang bernama Tinhn Han Loai yang diperkosa oleh sesama pengungsi. Malu menanggung beban diperkosa, akhirnya ia memutuskan bunuh diri. Dalam rangka mengenang peristiwa tragis itulah maka patung ini dibuat oleh para pengungsi.Pemerkosaan bukanlah satu-satunya tindakan kriminal yang dilakukan oleh para pengungsi. Beberapa dari mereka juga mencuri, bahkan membunuh. Oleh karena itulah sebuah penjara juga dibangun di tempat ini. Penjara ini digunakan untuk menahan para pengungsi yang melakukan tindakan-tindakan kriminal tersebut, juga untuk menahan pengungsi yang mencoba melarikan diri. Selain itu, bangunan penjara ini juga dijadikan markas satuan Brimob Polri yang bertugas di Pulau Galang.Tak jauh dari Patung Taman Humanity, terdapat areal pemakaman yang bernama Ngha Trang Grave. Di sini, dimakamkan 503 pengungsi Vietnam yang meninggal karena berbagai penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Selain itu, depresi mental membuat kondisi fisik mereka semakin lemah. Kini, hampir setiap tahun banyak sanak keluarga dari yang meninggal ini datang ke Pulau Galang untuk berziarah.Di pulau ini juga terdapat Monumen Perahu yang terdiri atas tiga perahu yang digunakan para pengungsi ketika meninggalkan Vietnam. Dengan perahu seperti itulah mereka selama berbulan-bulan mengarungi Laut Cina Selatan, hingga akhirnya tiba di Pulau Galang dan sekitarnya. Pada tahun 1996, perahu-perahu ini dengan sengaja ditenggelamkan oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar 5.000 pengungsi. Lima ribu pengungsi ini dipulangkan karena mereka tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan baru. Mereka tidak hanya menenggelamkan perahu sebagai bentuk protesnya, namun juga dengan membakarnya. Sepeninggal para pengungsi ini, oleh Pemerintah Otorita Batam, perahu ini diangkat ke daratan, diperbaiki, dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai sejarah, yang mengingatkan pengunjung akan penderitaan para pengungsi tersebut.Selain itu, berbagai tempat ibadah yang dulu dibangun untuk memfasilitasi pengungsi, juga masih ada hingga kini. Seperti, Vihara Quan Am Tu, Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, gereja protestan, dan juga mushola. Vihara Quan Am TU, merupakan salah satu tempat ibadah yang paling mencolok di situ. Cat bangunan yang berwarna-warni membuat pengunjung dapat mengenalinya dari kejauhan. Dalam bangunan ini, terdapat tiga patung berukuran besar dengan warna-warna yang mencolok. Di depannya terdapat patung naga raksasa yang seakan menjaga ketiga patung ini. Salah satu dari ketiga patung ini adalah Patung Dewi Guang Shi Pu Sha. Di bawah kaki patung sang dewi, terdapat plakat yang menceritakan bahwa dewi ini dapat memberikan hoki, jodoh, keharmonisan dalam rumah tangga, dan juga dapat memberi kepintaran serta mengabulkan cita-cita bagi anak-anak. Jika ingin mendapat berkat-berkat yang bisa diberikan oleh Dewi Guang Shi Pu Sha, maka pengunjung dapat berdoa, memohon sang dewi mengabulkan permintaan, setelah itu melemparkan koin ke arah dewi tersebut.Salah satu tempat yang dapat memberikan gambaran jelas kepada pengunjung mengenai kehidupan sehari-hari para pengungsi adalah gedung bekas kantor UNHCR. Memasuki gedung ini, pengunjung dapat melihat foto seribu wajah pengungsi yang pernah tinggal di pulau tersebut. Selain itu, di gedung yang kini difungsikan sebagai kantor resepsionis dan sumber informasi bagi pengunjung, terdapat foto-foto berbagai peristiwa yang terjadi pada orang-orang Vietnam ini selama masa pengungsian.Tempat ini, terletak sekitar 50 km dari pusat Kota Batam. Untuk memasuki pulau ini, pengunjung harus menyusuri Jembatan Barelang dan melewati beberapa pulau lainnya terlebih dahulu. Dari bandara Hang Nadim yang terdapat di Jalan Hang Nadim, Batu Besar Batam, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi. Namun, jika tidak memiliki kendaraan pribadi, juga dapat menggunakan Metro Trans atau angkutan umum di Kota Batam dari Jodoh tujuan Galang dengan tarif Rp 3.000-Rp 5.000. Atau pengunjung juga dapat menyewa taksi yang banyak melintas di sekitar bandara. Biaya sewa taksi memang akan lebih mahal daripada bus, tetapi pengunjung bisa lebih santai untuk menikmati perjalanan ini. Bisa juga dengan sewa mobil dengan biaya Rp 400.000-Rp 500.000 per hari. Untuk memasuki lokasi bekas kamp pengungsi Vietnam ini pengunjung dikenakan tiket masuk seharga Rp 20.000-Rp 25.000 per mobil. Selain itu, berbagai tempat ibadah yang pernah dibangun pada masa pengungsian masih terawat dan dapat digunakan oleh para pengunjung hingga sekarang. (Courtesy Kompas/Antara)

Sepotong Senja di Boulevard

SEMILIR angin senja mengiringi matahari beranjak ke peraduannya. Beberapa orang duduk-duduk di pinggir pantai yang disebut Kawasan Boulevard. Biasanya selain wisatawan yang sengaja menunggu sunset, warga kota Manado juga sering menikmati senja di sekitar kawasan ini.Kawasan Boulevard ini termasuk salah satu ikon ibukota propinsi kota Manado yang menjadi pusat wisata kuliner pada malam hari. Kawasan ini sebelumnya banyak berjajar pedagang kaki lima, kafe pinggir jalan yang menjajakan aneka makanan khas Manado. Mereka dulu berjualan makanan di gerobak-gerobak yang berjajar di sepanjang pantai, tetapi kawasan itu dirapikan dan mereka dipindahkan ke tempat lain karena akan dibangun mal.Saat ini, sudah ada empat mal yang berdiri di kawasan itu seperti Manado Town Square (Mantos), Boulevard Mall, Bahu Mall dan Mega Mall. Di belakang Bahu Mall dan Mega Mall terdapat cafĂ©, restoran dan rumah makan yang menyajikan aneka masakan Manado dan makanan lainnya seperti gado-gado, bakso, nasi goreng dan aneka seafood, dsb. Inilah tempat makan yang bisa dijadikan Mal-mal tersebut berada di sepanjang jalan Pierre Tendean dan menjadi landmark kebanggaan karena merupakan jalan terlebar dan jalan pantai terpanjang (4,2 kilometer) di Manado. Untuk menuju Kawasan Boulevard cukup mudah dijangkau dengan angkutan dalam kota maupun kendaraan pribadi. Letaknya pun strategis dan menjadi salah satu daya tarik baru kota Tinutuan ini, sehingga pusat kegiatan masyarakat Manado justru berpusat di mal-mal, hotel atau restoran di kawasan Boulevard ini. Sebelumnya aktivitas warga Manado terpusat di sekitar Monumen Taman Kesatuan Bangsa, tetapi saat ini lebih banyak terpusat di kawasan Boulevard. Tetapi reklamasi pantai sepanjang 4,2 kilometer ini bukannya tak menimbulkan dampak. Menurut penduduk sekitar kawasan tersebut, sampah dari sepajang kawasan pantai ini akan mengikuti pola arus ombak ke arah Pulau Bunaken. Jadi ketika ombak besar sekitar bulan November-Januari, pantai Bunaken menjadi penuh sampah. Kondisi ini masih berlangsung hingga bulan Februari lalu dan penduduk Bunaken hanya bisa pasrah atas sampah kiriman dari lahan reklamasi itu.Sedangkan pemerintah kota Manado melihat prospek pembangunan kawasan Boulevard dengan mereklamasi pantai untuk mendirikan mal-mal ini sebagai potensi wisata baru. Incarannya tentu pendapatan daerah melalui sektor pariwisata dapat lebih bertambah. Apalagi wisata kuliner di kota Manado ini sangat beragam dan tentunya menjadi keunikan tersendiri bila dijadikan obyek wisata tersendiri di tengah kota. Masakan yang dihidangkan di area makan ini meliputi rusuk babi bakar, aneka sajian ikan bakar hasil tnagkapan nelayan, dan masih banyak lagi. Hampir semua restoran menyediakan hidangan khas Manado yang terkenal pedas tersebut. Tetapi di beberapa kedai juga terdapat sajian menu dari luar Manado seperti bakso, coto Makasar, seafood dan masih banyak lagi.Beberapa kafe di kawasan ini pun menyediakan aneka makanan dan minuman khas seperti saraba. Minuman susu dicampur jahe dan rempah-rempah ini lezat disajikan saat hangat. Terutama bila musim penghujan, minuman khas Makasar ini memberi efek hangat pada tubuh. Hidangan yang pas untuk menyeruput saraba ini biasanya pisang goreng, tahu isi goreng, dan sebagainya.Lokasi kawasan Boulevard yang berada di kota Manado ini memungkinkan pengunjung dapat menyambangi obyek wisata lain di kota Manado seperti Kuil Ban Hing Kiong, Museum Provinsi Sulawesi Utara, dan masih banyak lagi.Wisatawan yang ingin menikmati semburat merah senja di pinggiran pantai Boulevard ini hari Sabtu, sebaiknya agak lebih sore datang ke daerah ini. Pasalnya, pengunjung terutama pemuda dan remaja dari Manado dan sekitarnya biasanya berkumpul di tempat ini untuk menghabiskan akhir pekan tiap Sabtu sore. Kemacetan di sepanjang jalan Pierre Tendean pun tak terelakkan sepanjang Sabtu dan Minggu, karena hampir sebagian besar orang Manado ingin menghabiskan waktu di kawasan Boulevard.Tetapi upaya untuk mencapai tempat ini dengan bermacet-macet sepertinya tidak akan sia-sia. Semburat merah dan violet berpadu di langit Boulevard senja itu. Sungguh sepotong senja terindah di Kota Tinotuan…(Courtesy Kompas/Antara)

Pantai Pongkar: Tak Ada Nyiur, Cemara Pun Jadi

PANTAI dengan deretan nyiur pohon kelapa melambai? Ah... itu mungkin sudah biasa. Namun, pantai dengan jajaran pohon cemara di sepanjang pantai, ini mungkin jarang Anda temui dan ternyata juga tidak kalah cantiknya. Ya, itulah Pantai Pongkar. Kawasan wisata yang terletak di Kecamatan Tebing Tanjung Balai Karimun, ibu kota Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, ini adalah pantai unik dengan kombinasi butiran pasir putih yang bersih dan jajaran pohon cemara yang indah. Pantai seluas sekitar 100 hektar itu berada di kawasan Pulau Karimun. Setiap pengunjung yang datang ke Karimun tidak mesti lagi menaiki kapal feri atau kapal pompong menuju lokasi. Pengunjung yang baru tiba di Tanjung Balai Karimun dapat langsung menuju lokasi melalui jalur darat dengan waktu tempuh kurang dari setengah jam. Untuk mencapai lokasi ini, dari Bandara Hang Nadim di Jalan Hang Nadim, Batu Besar Batam, Kepulauan Riau, Anda dapat menggunakan kapal motor tujuan Batam-Karimun. Perjalanan menggunakan kapal dari Batam memakan waktu sekitar dua jam atau dapat juga menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, dengan memilih tujuan Tanjung Pinang-Karimun dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Perjalanan menuju Pantai Pongkar memakan waktu sekitar 20 menit dari pusat kota Tanjung Balai Karimun. Saat ini belum ada kendaraan umum untuk mencapai pantai tersebut, jadi perjalanan harus ditempuh dengan kendaraan pribadi ataupun ojek. Bisa juga menggunakan taksi tanpa argo yang banyak terdapat di sekitar lokasi pelabuhan atau dapat juga dengan menyewa mobil dengan biaya Rp 350.000-Rp 500.000 per hari ditambah dengan ongkos bensin.Infrastruktur jalan menuju lokasi sudah tersedia dengan lebar badan jalan sekitar 6 meter sehingga bisa dilalui dengan dua lajur kendaraan roda empat atau enam. Kualitas jalannya terbilang sudah cukup bagus dan mulus. Dari jarak 15 kilometer menuju lokasi, sekitar 3-5 kilometer jalannya tergolong bagus. Selebihnya, keadaannya terbilang masih rusak. Bukan hanya sekadar berlubang, melainkan banyak onggokan batu yang bertumpuk di tengah jalan sehingga perjalanan dari Tanjung Balai yang seharusnya bisa ditempuh dalam 20 menit menjadi 30 menit, bahkan 45 menit.Di Pantai Pongkar, pengunjung bukan hanya dapat menyaksikan keunikan pantai, melainkan juga dapat menikmati pemandangan gunung di sekitarnya. Gunung-gunung yang dari jauh tampak berwarna biru tua itu berada di sisi kiri dan kanan pantai sehingga pengunjung yang beristirahat di pantai tidak akan bosan karena terpuaskan dengan pamandangan yang indah.Pantai Pongkar memiliki hamparan pantai yang luas dan alami dengan pohon cemara yang tersebar di sekitar wilayah pantai. Di sekitar lokasi juga terdapat danau kecil yang kaya akan ikan. Banyak pengunjung memanfaatkan danau tersebut untuk memancing. Di atas danau tersebut, didirikan sebuah panggung dengan arsitektur Melayu yang digunakan untuk beragam kegiatan kesenian. Biasanya, panggung ini juga digunakan untuk sejumlah kegiatan yang berlangsung saat malam pergantian tahun. Pengunjung juga dapat memancing di laut atau sekitar kawasan pantai. Untuk memancing di laut, pengunjung dapat menyewa kapal atau pompong dari penduduk setempat. Kawasan pantai ini memiliki banyak ikan sehingga tidak perlu berlayar terlalu jauh ke tengah laut untuk memancing. Selain itu, tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menunggu ikan hasil tangkapan. Dalam hitungan menit, kail Anda akan terasa berat akibat tarikan ikan hasil memancing. Selain itu, pantai ini juga kaya akan biota laut, seperti terumbu karang, kerang, atau ikan. Karena itu, pengunjung juga dapat menyelam (diving) serta bercengkerama dengan kehidupan flora dan fauna bawah laut. Bila bosan dan lelah menyelam, pengunjung bisa berjalan menyisir pantai dengan pasir putihnya sambil mencari kerang. Di sepanjang pantai juga terdapat bangku yang berjajar dan terbuat dari semen untuk beristirahat. Bangku ini terletak di bawah jajaran pohon cemara yang tersebar di setiap lokasi. Bangku ini sangat teduh sehingga pengunjung dapat duduk-duduk dan melepas lelah sambil menikmati terpaan angin pantai. Kawasan pantai ini juga biasa digunakan untuk bermain layang-layang karena anginnya yang sangat potensial. Bila ingin makan, disarankan untuk membawa bekal masing-masing dari rumah karena sejumlah rumah makan di sekitar pantai hanya menjajakan makanan ringan, mi rebus, air kelapa, dan aneka softdrink. Dari pantai Pongkar, pengunjung juga bisa melanjutkan perjalanan mengunjungi objek wisata air terjun Pongkar yang letaknya sekitar 2 kilometer ke arah tenggara atau sekitar 15 menit dari Pantai Pongkar. Menuju air terjun, pengunjung dapat menikmati keindahan alam dan hutan. Apalagi letak air terjun berada di sekitar 700 meter ketinggiannya. (Courtesy Kompas/Antara)