Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Thursday, April 16, 2009

Pulau Nyang-Nyang, Surga Para Peselancar

Pasir putih, ombak besar yang bergulung, hangatnya sinar matahari...
Menemukan surga di Sumatera Barat tepatnya di kawasan Kepulauan Mentawai rasanya tak sulit. Pulau Nyang-Nyang, salah satunya. Pulau yang memenuhi sederetan ‘maunya’ wisatawan asing maupun lokal.
Hampir seluruh pulau di Kepulauan Mentawai sering disebut surga bagi para peselancar, termasuk Pulau Nyang-Nyang. Pasalnya, ketika musim ombak, tinggi ombak bisa mencapai empat meter. Biasanya terjadi pada pertengahan tahun. Jika kapal kayu atau perahu motor penduduk enggan melaut, justru kondisi ombak seperti inilah yang menjadi dambaan bagi para peselancar di tepi pantai Pulau Nyang-Nyang. Sebagian besar peselancar yang datang adalah orang-orang kulit putih alias Bule. Demikian keterangan sejumlah penduduk lokal yang ditemui. Keadaan ini juga berlaku di beberapa pulau lain di sekitar Pulau Nyang-Nyang, seperti Pulau Sipora tempat ibukota Kabupaten Mentawai berada, Pulau Karamajat, Pulau Siloinak, Pulau Mainu, Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan.
Pulau Nyang-Nyang adalah salah satu pulau di Kecamatan Siberut Selatan. Dari Muara Siberut, ibukota kecamatan, perjalanan ke Pulau Nyang-Nyang dengan boat kecil memakan waktu lebih dari satu jam sedangkan dengan boat besar menghabiskan waktu satu setengah hingga dua jam. Perjalanan dengan boat besar memakan waktu lebih dalam keadaan normal karena air tidak terlalu pasang. Boat besar yang berisi maksimal 8 orang dapat disewa dengan harga mulai dari Rp 600.000-800.000 untuk sekali perjalanan. Oleh karena itu, dating secara berkelompok sangat disarankan supaya biaya perorangan menjadi lebih murah. Selain melalui Muara Siberut, Pulau Nyang-Nyang juga dapat dicapai sekitar dua jam perjalanan dari Tuapejat, ibukota Kabupaten Mentawai.
Pengunjung yang mendatangi pulau ini biasanya menghabiskan waktu seminggu. Mereka menginap di rumah-rumah penduduk dengan tarif tertentu yang jauh lebih murah bila menginap di sebuah resort yang dibangun di pulau tersebut. Jika menginap di rumah penduduk yang masih terbuat dari kayu dengan bentuk tertentu, tentu saja interaksi dengan para penduduk asli menjadi kesan tambahan dalam perjalanan wisata para pengunjung. Selain berselancar dan berkeliling dengan berjalan kaki ataupun dengan menggunakan boat, pengunjung dapat melihat langsung kehidupan sehari-hari penduduk setempat, misalnya aktivitas mencari dan membuat sagu sebagai bahan makanan pokok atau menangkap ikan di laut.
Di sore hari, pengunjung dapat menghabiskan waktu dengan menyeruput kelapa muda sambil menikmati terbenamnya matahari di ufuk barat. Jangan lupa juga membeli beberapa hasil tangkapan penduduk dari laut untuk makan malam. Meminta tolong kepada pemilik rumah tempat menginap untuk membakar hasil tangkapan tersebut sah-sah saja. Tentu saja dengan imbalan secukupnya. Di pulau ini, penduduk memang mengandalkan hasil laut sebagai makanan sehari-hari mereka. Oleh karena itu, jika tidak terlalu suka hasil tangkapan dari laut, bawalah bekal bahan makanan khusus ketika tiba di Kepulauan Mentawai.
Pulau Nyang-Nyang biasanya ramai pada musim ombak. Selain ramai dengan para wisatawan dan peselancar, pulau ini juga dipenuhi dengan penduduk dari pulau-pulau seberang untuk menjajakan berbagai cendera mata, seperti kaus atau baju, gelang-gelang, maupun ukiran khas Mentawai berbentuk orang yang sedang mendayung sampan.
Keeksotisan Pulau Nyang-Nyang memang mengesankan. Nyiur melambai dengan kemayu dengan latar belakang langit yang biru jernih serta deburan ombak membuat ingin kembali ke Pulau Nyang-Nyang yang perlu untuk dikenang. Namun perlu waspada, Kepulauan Mentawai secara umum terkenal dengan hewan seperti nyamuk yang bernama Agas. Gigitannya sangat gatal. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk membawa lotion anti nyamuk atau sejenisnya. (Courtesy By Kompas/Antara)

Masih Banyak Keindahan di Toba

Heran, di Medan tidak banyak orang yang antusias dengan Danau Toba. Danau terbesar di Asia Tenggara itu menyimpan gambaran ”kotor”, ”penuh keramba”, hingga ”hutan yang sudah gundul”. Seorang guru SMA mengatakan, pelayanan warga kepada wisatawan di Parapat tidak bagus. Orang membeli mangga bisa kena tipu. Aufrida Wismi Warastri & Edna C PattisinaUntunglah seorang kawan berkata, ”Danau Toba itu luas, kita masuk dari sisi lain.”Kata-kata itu menguatkan niat kami, apalagi ditambah kenangan tentang idola masa kecil, Julius Sitanggang, yang suaranya masih terngiang-ngiang di telinga: Danau Toba… oh Danau Toba… danau indah dan permai….Berangkat hari Minggu pagi, dari Medan kami menuju Sidikalang, Kabupaten Dairi, untuk bertemu beberapa teman. Setelah itu menuju Tele, salah satu sudut terbaik untuk melihat Danau Toba. Di Sidikalang, kami mendapat informasi keberadaan danau di atas Danau Toba, danau di Pulau Samosir. Danau Sidihoni namanya. Sebuah imaji yang menjadi cita-cita perjalanan ini.Perjalanan kami lanjutkan setelah sempat bimbang melihat beberapa truk mengangkut durian Sidikalang yang tersohor itu. Beli… tidak... beli... tidak…. ”Ada juga kok di Medan, malah sudah dibungkus kotak plastik, berlapis-lapis, siap masuk ke pesawat,” kata Maringan S Pardede, warga Sidikalang.Jalan antara Sidikalang dan Tele melewati perkebunan kopi dan jeruk, berselang-seling dengan padang tempat kuda merumput di samping anak-anak yang bersuka ria, bercanda sambil mandi-mandi di air yang jernih.Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 lewat, saat sesekali, sedikit demi sedikit, Danau Toba menampilkan dirinya, di antara perbukitan. Suasana jadi misterius sekaligus puitis.Tele adalah salah satu sudut terbaik bagi umum untuk melihat Danau Toba. Sebuah menara pandang berdiri di sudutnya. Di sisi kiri tampak Gunung Pusuk Buhit, gunung mitologi Batak, yang diselimuti kabut dan awan. Di sisi kanan beberapa air terjun dari tebing Danau Toba mengalir. Di depan menara, Danau Toba terbentang. Hujan rintik-rintik turun, dingin, tetapi tak menusuk.Beberapa orang yang datang ke Tele sering bergumam, Tele mengingatkan mereka pada pegunungan dalam film Lords of the Ring.Hari itu jalan dari Tele ke Pulau Samosir yang menuruni bukit tengah diperlebar. Keamanan pengendara jadi taruhan. Tebing batu di sisi kiri rawan longsor, sementara jurang puluhan meter menganga di sebelah kanan. Jalanan bergeronjal, rusak. Sayang, keindahan Danau Toba menyembunyikan maut akibat infrastruktur yang buruk.Sup ikanMatahari nyaris tenggelam ketika tiba-tiba kami merasa mobil terguncang aneh di jalan rata. Sebuah insiden terjadi: ban mobil kami pecah. Jujur, kami tidak tahu yang namanya dongkrak, apalagi tempat ban cadangan. Beruntung, seorang pemuda asal Medan yang kebetulan lewat dengan inang dan tulang-nya rela berselonjor di bawah mobil mencari pengait ban cadangan yang telah berkarat dan membantu kami mengganti ban.Sekitar pukul tujuh malam kami tiba di Pangururan, kota terbesar di Pulau Samosir. Kami menginap di Ambarita, disambut Jumaga Gultom, tuan rumah yang mengajak mengobrol di teras dengan suara latar empasan air Danau Toba yang berjarak dua meter dari tempat kami duduk.Istri Jumaga, Masrida Sihombing, menghidangkan menu hari itu, sop ikan Danau Toba, yang baru dibuat karena memang hanya kami tamunya pada hari yang dingin itu. Tidak ada lagi yang kurang, setelah semangkuk panas sop ikan mujair dengan potongan tomat segar dimakan bersama nasi hangat.Obrolan pun mengalir ke sana-kemari, dari air danau yang naik beberapa meter belakangan ini, sampai pada turis mancanegara yang tidak pernah kembali sejak tragedi bom Bali. Turis domestik cukup banyak, tetapi kebanyakan berhenti di Parapat.Sempat kami berpandangan saat empunya rumah bercerita tentang Danau Sidihoni. ”Sebenarnya bisa cuma setengah jam dari Pangururan, tetapi karena jalan rusak dua jam pun bisa lebih,” kata dia. Dalam hati saya berkata, ban bisa pecah lagi, nih.Kami berangkat pukul enam pagi ke Sidihoni. Di huta-huta alias desa-desa di sepanjang jalan, wajah-wajah anak kecil muncul dari rumah adat, sementara ibu mereka menyapu di halaman rumah. Ladang dan makam tempat tulang-belulang para leluhur Batak yang dikubur kembali saat upacara Mangongkal Holi berjejer di tepi jalan.”Boru apa kau, inang?” Ringan sebuah teguran meluncur yang dengan mudah berlanjut ke percakapan panjang tentang suami, istri, anak, cucu, hingga kehidupan. Perjalanan kami terasa sederhana, tetapi nyata, masuk ke dalam kehidupan para inang dan amang di Samosir, bukan sekadar menonton sesuatu yang artifisial.Perjalanan dari Pangururan ke Danau Sidihoni melewati jalan menanjak yang bukan saja rusak parah, tetapi hancur lebur. Jalan tujuh kilometer perlu ditempuh dalam waktu dua jam. Untungnya, pemandangan Danau Toba dari atas sangat indah. Danau Toba bahkan terlihat dalam sudut 180 derajat melebar. Hutan pinus serta bunga-bunga liar ada di sepanjang jalan.SidihoniDi tengah padang rumput dan ladang, muncullah Danau Sidihoni, danau di atas Danau Toba itu. Di tepian danau yang berujud bukit tampak sebuah gereja tua mungil.Tidak ada kesibukan wisata di sekitar danau yang sunyi sepi. Hanya sebuah warung kopi dengan beberapa pria yang asyik menongkrong dengan meja biliar dan segelas kopi. ”Dulu sering ada turis bule kemah di sini, mereka suka berenang di danau,” kata Naibaho, warga setempat.Danau Sidihoni terletak di tengah padang rumput di Desa Ronggur Nihuta, desa tertinggi di Samosir yang terletak di ketinggian sekitar 1.500 meter. Menurut Maruhum Simalango (73), tetua masyarakat, kawasan itu tadinya hutan belukar. Rawa yang ada di tengah hutan belukar itu kemudian berubah menjadi danau. Itu terjadi ratusan tahun lalu.Maruhum berkisah, ada cerita di balik ketenangan air danau yang luas maksimalnya bisa mencapai 5 hektar dengan kedalaman 90 meter ini. Sesekali danau ini terlihat bening sehingga mengundang para turis berenang.Ada saat-saat istimewa ketika perubahan warna danau mengikuti kondisi republik ini. ”Pernah dua kali danau ini berwarna merah, waktu 30 September 1965 dan waktu Soeharto turun,” kata Marihun.Saat kami berada di sana, tepat pada hari kedua kampanye pemilu legislatif (17/3), air danau yang susut itu berwarna coklat keruh. Entah apa artinya....(Courtesy By Kompas/Antara)

Ada Mercusuar di Masjid Luar Batang (1)

Senin (13/4) pukul 16.00. Di sela riak laut, cahaya matahari seperti menebar butiran mutiara. Nurdin (50) mendorong perahu kecilnya dari tepian kampung nelayan di RW 4 Kampung Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara (Jakut). Perahu pun bergeser ke tengah, diombang-ambingkan angin sore. Di seberang, deretan kapal kayu bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa. Cuaca cerah, menyenangkan. Tapi tidak buat Nurdin. Pekerjaannya mengantar wisatawan berkeliling kawasan Sunda Kelapa sampai Pulau Onrust, tidak lagi menyimpan banyak harapan seperti 15 tahun lalu. Kala itu, dengan pekerjaan serupa, warga masih mampu menabung dan menyekolahkan anak-anak mereka hingga SMA. Tapi sekarang? “Pendapatan bersih saya sehari rata-rata hanya Rp 50.000,” ucapnya tak bersemangat. Kedua tangannya terus mendayung.Tak jauh dari rumahnya, Suarto (53) duduk gelisah di depan tokonya, menunggu pembeli yang tak juga datang. Usaha kerajinan kerang yang ditekuni ibunya sejak tahun 70-an kini lesu. Padahal, tahun 80-an usaha tokonya di Jalan Pasar Ikan Kampung Luar Batang itu ramai pembeli. Kini, wisatawan yang datang ke sana jauh berkurang. "Dulu, tempat pelelangan ikan di belakang deretan toko juga masih ramai. Ada beberapa warung ikan bakar di situ. Turis suka pada suasananya," tutur Sanang (62), pengojek sepeda yang mangkal di depan deretan toko. Ia sudah 20 tahun mengojek di situ. Lima belas tahun lalu, para pengojek mendapat banyak pelanggan, terutama para pedagang pengecer ikan segar dan turis.“Pendapatan kami tahun 80-an memang cuma Rp 15.000. Tetapi, sepiring nasi sayur dan telur kala itu cuma Rp 50. Sekarang, pendapatan kami sehari rata-rata Rp 30.000. Buat makan dan rokok, Rp 25.000," papar Sanang. Ia menjelaskan, setelah ada pelelangan ikan di Muara Baru dan Muara Angke, pelelangan ikan di Kampung Luar Batang sepi.
Belum banyak tergarap Menurut mantan Lurah Penjaringan, Budi Santoso, 60 persen dari jumlah penduduk Penjaringan bekerja di sektor informal. Sisanya bekerja sebagai buruh di pabrik, pergudangan, pelabuhan, dan pelayan rumah toko.Mereka yang bekerja di sektor informal, umumnya hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal, di Penjaringan banyak peluang usaha wisata yang belum banyak tergarap.Setidaknya ada lima lokasi yang bisa diintegrasikan menjadi bermacam paket wisata menarik. Kelima lokasi tersebut, Museum Bahari, Pasar Ikan, Gedung Galangan Kapal VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), dan Masjid Keramat Luar Batang di Kelurahan Penjaringan, serta Pelabuhan Sunda Kelapa di Kelurahan Ancol. (Courtesy By Kompas/Antara)